Harga Kedelai Tembus Rp12.500, Pengrajin Tahu Malingping Menjerit

Pengrajin tahu di Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping

POROSIDN.COM – Kenaikan harga kedelai dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya pengrajin tahu di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat, sementara harga jual di tingkat konsumen sulit dinaikkan.

Salah satu pengrajin tahu asal Kampung Nambo, Desa Pagelaran, Raheli, mengaku kesulitan menghadapi lonjakan harga bahan baku utama tersebut. Ia menyebut, harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram kini naik menjadi Rp12.500 per kilogram.

“Kondisinya makin berat bagi kami pengrajin kecil. Harga kedelai naik terus, sementara kalau kami menaikkan harga tahu, pembeli pasti komplain,” ujar Raheli saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (8/4/2026).

Akibat kenaikan tersebut, margin keuntungan yang diperoleh pengrajin semakin menipis. Untuk menyiasati kondisi ini, Raheli terpaksa melakukan efisiensi biaya produksi. Meski demikian, ia memilih tidak mengurangi ukuran tahu secara drastis demi menjaga kepercayaan pelanggan, khususnya di Pasar Binuangen.

Tak hanya harga kedelai, kenaikan juga terjadi pada sejumlah bahan pendukung produksi. Harga plastik pembungkus diketahui naik sekitar 15 persen, sehingga menambah beban operasional harian.

Selain itu, biaya bahan bakar dan logistik turut mengalami peningkatan. Kenaikan harga transportasi berdampak pada naiknya harga kayu bakar maupun gas LPG yang digunakan dalam proses produksi tahu.

Di sisi lain, fluktuasi harga kebutuhan pokok juga berdampak pada daya beli masyarakat. Kondisi ini secara tidak langsung memengaruhi penjualan produk olahan kedelai di pasaran.

Raheli berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai, khususnya di tingkat nasional. Ia khawatir, tanpa adanya intervensi atau subsidi, banyak pengrajin tahu skala rumahan yang terpaksa menghentikan produksi.

“Kami hanya ingin harga kembali stabil. Kalau terus begini, bukan tidak mungkin produksi akan berhenti sementara karena modal tidak tertutup oleh hasil penjualan,” pungkasnya. ***