Kesenian Bedug Lojor Cimandiri Tetap Eksis Ditengah Gempuran Seni Moderen

Kesenian Bedug Lojor Desa Cimandiri Saat Tampil Pada Pesta Warga Setempat

POROSIDN.COM – Seni budaya Bedug Lojor, merupakan sebuah tradisi turun-temurun dari para karuhun di Kasepuan Kampung Cipeundeuy, Desa Cimandiri, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, hingga kini masih terjaga keasliannya sebagai simbol identitas warga setempat.

Kesenian ini bukan hanya dipandang sebagai instrumen musik perkusi semata, tetapi juga elemen sakral yang menyatukan generasi muda dan tua dalam berbagai ritual adat serta kegiatan kemasyarakatan.

Keunikan Bedug Lojor terletak pada bentuk fisiknya yang panjang, yang biasanya dimainkan bersama instrumen bambu seperti angklung. Teknik menabuhnya pun memerlukan harmoni kolektif, mencerminkan nilai gotong royong yang masih tertanam kuat di sanubari masyarakat Desa Cimandiri.

Hingga saat ini, masyarakat di desa Cimandiri selaku menampilkan kesenian Bedug Lojor pada setiap momen keseharian. Selain di tampilkan pada upacara adat, kesenian ini juga sering ditampilkan dalam pesta pernikahan maupun khitanan warga setempat.

Tak ayal pertunjukan ini menjadi tontonan yang menarik bagi warga dan para tamu undangan, kesan instrumen dan kostum tradisional menjadikan pertunjukan seni ini memiliki nuansa tersendiri ditengah pertunjukan musik moderen.

Tokoh pemuda sekaligus Ketua RT Kampung Cipeundeuy, Ridwan Barkowi, menegaskan bahwa pelestarian seni ini adalah upaya menjaga jati diri daerah. Seni Bedug Lojor adalah warisan karuhun yang harus kami jaga. 

"Ini bukan hanya soal tontonan, tapi soal menjaga jati diri kesenian kami agar tidak hilang ditelan zaman," ujar Ridwan saat ditemui di lokasi.

Ditempat yang sama ketua seni budaya Bedug Lojor kampung Cipeundeuy, Mista, menambahkan bahwa selama ini Bedug Lojor dirawat secara swadaya oleh masyarakat. 

Ia berharap perhatian dari pemerintah dan pemerhati budaya dapat terus meningkat seiring dengan eksistensi kesenian ini di berbagai perhelatan.

"Di Desa Cimandiri, kesenian ini dirawat secara swadaya sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi. Kami berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah agar seni tradisional ini tetap lestari bagi generasi mendatang," pungkas Mista. ***