POROSIDN.COM - Gubernur Banten, Andra Soni, menerima amanat penting terkait pelestarian lingkungan dari masyarakat adat Baduy dalam rangkaian Seba Baduy 2026. Pesan tersebut disampaikan langsung oleh 1.552 warga adat sebagai wujud komitmen menjaga keseimbangan alam yang telah diwariskan secara turun-temurun. Minggu, 26/4/2026.
Dalam prosesi adat yang sarat makna tersebut, masyarakat Baduy menyampaikan pesan kearifan lokal yang menjadi pedoman hidup mereka, yakni “Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak,” yang berarti gunung tidak boleh dihancurkan dan lembah tidak boleh dirusak. Ungkapan tersebut menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Pesan ini bukan sekadar simbol atau tradisi seremonial, melainkan prinsip hidup yang dijalankan secara konsisten oleh masyarakat adat Baduy dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dikenal teguh menjaga hutan, sumber air, serta ekosistem tanpa eksploitasi berlebihan.
Perwakilan adat, Jaro Oom, menegaskan bahwa komitmen menjaga alam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Baduy.
“Kami hidup dari alam dan bersama alam. Karena itu, menjaga keseimbangan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Apa yang kami jaga hari ini adalah titipan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, sejumlah kawasan juga disoroti sebagai wilayah yang harus terus dijaga kelestariannya, di antaranya Sanghyang Sirah, Gunung Honje, hingga kawasan Ujung Kulon, serta beberapa wilayah lain yang melintasi batas administratif daerah.
Menanggapi amanat tersebut, Gubernur Banten Andra Soni menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti pesan masyarakat adat Baduy melalui langkah-langkah konkret. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi lintas wilayah, mengoptimalkan peran dinas terkait, serta mendukung keberlangsungan ritual adat sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan.
“Amanat ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan pelestarian alam. Kami akan memastikan pesan ini diterjemahkan dalam kebijakan dan tindakan nyata,” kata Andra Soni.
Pemerintah Provinsi Banten juga terang Andra, menegaskan bahwa komunikasi dan kemitraan dengan masyarakat adat Baduy akan terus dijaga secara berkelanjutan, tidak hanya dalam momentum Seba Baduy, tetapi juga dalam berbagai program pembangunan berbasis lingkungan.
Selain itu, lanjutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah tantangan pembangunan dan perubahan zaman. Amanat dari masyarakat adat Baduy dalam Seba Baduy 2026 menjadi refleksi penting bagi semua pihak tentang urgensi menjaga alam.
"Kearifan lokal yang mereka pegang teguh menjadi contoh nyata bahwa keberlanjutan lingkungan dapat dimulai dari kesadaran, komitmen, dan tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Andra. ***
