POROSIDN.COM – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Badak Banten Provinsi Banten mengaku menerima informasi terkait dugaan praktik jual beli titik dan setoran dalam pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lebak yang diduga melibatkan seorang tokoh berinisial ASA.
Ketua DPW Badak Banten, Asep Pahrudin, mengatakan pihaknya memperoleh sejumlah informasi dari berbagai sumber yang mengaku mengetahui adanya dugaan pungutan terhadap pengelola dapur SPPG.
Menurut Asep, berdasarkan informasi yang diterima, mitra yang ingin memperoleh pembaruan atau penempatan titik dapur disebut-sebut harus mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah. Selain itu, terdapat dugaan adanya setoran harian sebesar Rp1,5 juta per dapur yang dibebankan kepada pengelola SPPG yang telah beroperasi.
"Berdasarkan informasi yang kami terima, beberapa dapur yang sudah beroperasi diduga memberikan setoran harian sebesar Rp1,5 juta per hari," ujar Asep, Sabtu 6 Juni 2026.
Asep menjelaskan, terdapat beberapa yayasan yang mengelola puluhan dapur SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Lebak. Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, terdapat yayasan yang digunakan untuk mengelola hingga 10 dapur SPPG.
Meski demikian, Asep menegaskan bahwa seluruh informasi tersebut masih berupa dugaan yang harus dibuktikan melalui proses hukum dan investigasi yang objektif serta transparan.
"Kami tidak ingin berspekulasi. Karena itu, kami meminta pihak-pihak yang berwenang untuk menelusuri dan mendalami informasi yang beredar agar semuanya menjadi terang dan jelas," tegasnya.
Badak Banten, lanjut Asep, mendukung penuh program pemenuhan gizi yang dijalankan pemerintah dan berharap seluruh proses pelaksanaannya bebas dari praktik-praktik yang dapat mencederai tujuan mulia program tersebut.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait dugaan tersebut, ASA membantah adanya praktik jual beli titik maupun setoran dari dapur SPPG sebagaimana isu yang beredar.
Menurut ASA, dirinya memang terlibat dalam pengelolaan sejumlah dapur SPPG di Kabupaten Lebak, baik yang sudah beroperasi maupun yang masih dalam tahap persiapan.
"Yayasan AM ada yang sudah jalan, ada yang belum jalan, ada yang baru berjalan, dan ada yang masih tahap survei. Semuanya tidak ada setoran. Bisa ditanyakan langsung kepada dapur-dapur yang sudah berjalan," kata ASA melalui pesan WhatsApp.
Ia juga membantah memperoleh keuntungan dari dugaan setoran tersebut. Sebaliknya, ASA mengaku justru mengeluarkan dana pribadi untuk mendukung operasional dan pembangunan dapur.
"Boro-boro ada setoran, yang ada saya justru mengeluarkan uang untuk peralatan. Saya berinvestasi atau bekerja sama dengan rekan-rekan di sana, namun hingga saat ini masih terkendala proses pembangunan," ujarnya. ***
