Kemenkes Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal sebagai Strategi Pemenuhan Gizi Seimbang ‎

Slogan Gizi Seimbang Kemenkes

POROSIDN.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat untuk pemanfaatan pangan lokal sebagai strategi utama pemenuhan gizi seimbang masyarakat, sebab pangan lokal memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pangan impor. selain itu, pangan lokal dinilai lebih segar karena rantai pasok yang pendek, mudah diakses, dan harganya lebih terjangkau. 

‎Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Lovely Daisy dalam Webinar Nasional yang digelar Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Rabu (5/2/2026).

‎Daisy mengatakan ada tiga masalah yang terjadi di masyarakat, yaitu kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi dan kekurangan zat gizi mikro. untuk itu dirinya mengajak masyarakat untuk memperbaiki pola konsumsi guna menghadapi tiga masalah tersebut.

‎"Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, 1 dari 5 balita masih mengalami stunting, sementara 37,8% orang dewasa mengalami kelebihan berat badan (overweight)," katanya. 

‎Kondisi ini terang Daisy, diperparah dengan pola makan yang kurang beragam. Sebanyak 96,7% masyarakat kurang makan sayur dan buah. Oleh karena itu, melalui slogan 'Sehat Dimulai dari Piringku', Kemenkes mengajak masyarakat menerapkan konsep Isi Piringku dengan memanfaatkan pangan lokal yang kaya nutrisi.

‎Pentingnya pangan lokal diperkuat oleh pandangan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB, Profesor Rimbawan. Menurutnya, pangan lokal memiliki keunggulan komparatif dibandingkan pangan impor.

‎"Pangan lokal lebih segar karena rantai pasok yang pendek, mudah diakses, dan harganya lebih terjangkau. Selain memenuhi gizi, mengonsumsi pangan lokal juga berdampak nyata bagi ekonomi petani dan memperkuat identitas budaya kita," jelas Rimbawan.

‎Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menyoroti dampak serius dari pola makan tinggi Gula, Garam, dan Lemak (GGL). Konsumsi GGL yang berlebih, terutama di perkotaan, menjadi pemicu utama hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

‎"Kajian bersama BPOM menunjukkan, jika kita menyelaraskan kebijakan pengendalian asam lemak trans dan reformulasi makanan, kita bisa mencegah 310 ribu kematian dan 580 ribu penyakit jantung. Pengaturan batas maksimum GGL dan label pangan menjadi langkah krusial yang terus kami dorong," tegas Nadia. ***