POROSIDN.COM — Kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikeusik Jaya menuai sorotan tajam. Aktivis Desa Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pandeglang mendesak penutupan sementara operasional SPPG tersebut setelah distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai amburadul.
Kasus paling mencolok terjadi di SD Negeri Nanggala 3, Kecamatan Cikeusik. Makanan MBG dilaporkan baru tiba pukul 12.00 WIB—tiga jam lebih lambat dari waktu ideal konsumsi siswa.
“Ini bukan sekadar telat, ini kelalaian serius. Anak-anak harusnya makan pagi, bukan siang menjelang pulang. Program untuk cegah stunting justru terancam gagal,” kata Aktivis Desa BGN, Novan Ahmad Fauzan, Senin 27 April 2026.
Novan menilai keterlambatan tersebut melanggar standar operasional distribusi dan berpotensi membahayakan kesehatan siswa, mengingat makanan telah dimasak sejak pagi namun baru dikonsumsi berjam-jam kemudian.
Selain berdampak pada kualitas gizi, kondisi ini juga memicu siswa membeli jajanan di luar sekolah, yang justru bertentangan dengan tujuan utama program MBG.
Dengan itu Novan mendesak Tutup sementara SPPG Cikeusik Jaya dan lakukan audit total, Bentuk tim investigasi lintas dinas dalam 1x24 jam, Uji kelayakan makanan oleh Dinas Kesehatan, Usut dugaan kelalaian oleh aparat penegak hukum dan Sampaikan permintaan maaf terbuka kepada siswa dan orang tua.
“Kalau tidak mampu bekerja sesuai standar, lebih baik diganti. Anak-anak tidak boleh jadi korban,” tutup Novan. ***
