APDESI Banten Tekan Pemerintah Soal Minimnya Pasokan Pupuk Subsidi

Ketua Karateker DPD APDESI Provinsi Banten, Rafik Rahmat Taufik

POROSIDN.COM - Kebutuhan pupuk subsidi di tengah puncak musim tanam saat ini terbilang tinggi, namun pasokannya dinilai belum mencukupi. Kondisi tersebut memicu keresahan serius di kalangan petani di Lebak Selatan. Minggu, 19/4/2026.

Di saat pemerintah gencar mendorong swasembada beras, kondisi di lapangan justru berbanding terbalik. Pupuk yang menjadi faktor kunci dalam produksi pertanian sulit didapatkan.

Berdasarkan pantauan dalam beberapa hari terakhir, sejumlah petani di Lebak Selatan seperti di Kecamatan Cihara dan Panggarangan mengaku telah berulang kali mendatangi kios resmi, namun stok pupuk subsidi masih kosong. Sementara itu, tanaman padi yang telah berumur beberapa minggu sangat membutuhkan pemupukan untuk menunjang pertumbuhan.

Hal ini dibenarka oleh para pemilik kios pupuk di dua kecamatan tersebut. Mereka menyebut, meski sempat ada pengiriman namun selang beberapa hari sudah habis kembali, khususnya jenis Phonska.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Karateker DPD APDESI Merah Putih Provinsi Banten, Rafik Rahmat Taufik, mengatakan bahwa seharusnya Pupuk Indonesia mampu menjamin ketersediaan pupuk dalam jumlah yang cukup, mengingat wilayah Lebak Selatan telah memasuki musim tanam.

Ia menegaskan, keterbatasan pasokan pupuk ditengah kebutuhan yang tinggi akan berdampak langsung terhadap kondisi tanaman.

“Tanpa pemupukan tepat waktu, potensi penurunan hasil panen bahkan ancaman gagal panen menjadi nyata,” ujarnya.

Atas situasi ini, Rafik mempertanyakan tata kelola pasokan dan distribusi pupuk subsidi, mulai dari ketersediaan di tingkat produsen hingga penyaluran ke kios.

“Jika tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan beras daerah. Penurunan produksi di sentra pertanian seperti Lebak Selatan bisa menjadi pukulan bagi target swasembada pangan nasional,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret, seperti memastikan ketersediaan pupuk dalam jumlah yang cukup serta mempercepat proses distribusi.

“Dinas pertanian, baik provinsi maupun kabupaten, harus segera melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan pupuk. Tanpa intervensi cepat, krisis pupuk ini dikhawatirkan akan berubah menjadi krisis produksi,” tegasnya.

Terpisah, H. Imam, Direktur CV Sinar Malingping Putra, selaku distributor pupuk subsidi di wilayah Lebak menegaskan bahwa kondisi saat ini bukanlah kelangkaan pupuk, melainkan tingginya kebutuhan akibat musim tanam dan pemupukan yang berlangsung serentak.

Pupuk subsidi disebutkan tetap tersedia dan setiap hari pasokan masuk ke gudang lini III Malingping melalui jalur distribusi dari Gresik–Serang–Malingping. Namun, meningkatnya kebutuhan petani membuat distribusi harian belum mampu sepenuhnya memenuhi permintaan kios pengecer.

Dari sisi jenis pupuk, ia menyebutkan bahwa yang mengalami keterbatasan hanya pupuk NPK. Sementara itu, pupuk urea dipastikan tersedia dan tidak mengalami hambatan di seluruh kios pengecer di wilayah tersebut.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa pihaknya setiap hari menyalurkan pupuk ke kios pengecer dengan jumlah sekitar 50 hingga 100 ton.

“Karena saat ini puncak penggunaan pupuk, sehingga setiap pengiriman ke kios pengecer belum bisa mencukupi kebutuhan. Biasanya tiap kios menerima sekitar 10 ton,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan petani dan kios pengecer dengan melakukan pengiriman setiap hari sesuai jadwal dan permintaan penebusan. ***