POROSIDN.COM - Warga di sejumlah kampung di Desa Kandangsapi Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak, mengeluhkan maraknya lalat yang diduga berasal dari aktivitas peternakan ayam yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman.
Kondisi ini dikeluhkan karena telah berlangsung lama dan dinilai mengganggu kenyamanan serta mengancam kesehatan masyarakat.
Pantauan di lapangan pada Rabu (6/5/2026), serbuan lalat terjadi di Kampung Cireret, Kampung Genggong, Kampung Kandangsapi, dan Kampung Ciramea. Lalat terlihat beterbangan di dalam rumah warga, menempel di perabotan, hingga menghinggapi makanan dan minuman yang dijual di warung-warung.
Salah seorang warga menyebut, populasi lalat meningkat tajam pada waktu-waktu tertentu, terutama saat masa panen ayam di kandang-kandang sekitar wilayah tersebut.
“Kalau sudah musim panen, lalatnya makin banyak. Masuk ke rumah, ke dapur, ke tempat makan,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Warga menduga sumber utama serbuan lalat berasal dari beberapa kandang ayam milik sejumlah pengusaha setempat yang berada dekat dengan permukiman.
Selain jarak kandang yang dinilai terlalu dekat, pengelolaan limbah dan kebersihan kandang juga disebut-sebut menjadi faktor pemicu berkembangnya lalat.
Keluhan ini, menurut warga, bukan persoalan baru. Mereka mengaku sudah bertahun-tahun menghadapi situasi serupa, namun hingga kini belum ada penanganan serius dari pemerintah yang dirasakan masyarakat.
“Kami takut penyakit. Setiap hari makanan selalu dihinggapi lalat,” imbuhnya.
Secara kesehatan lingkungan, lalat dikenal sebagai serangga pembawa bibit penyakit karena kerap hinggap di tempat kotor lalu berpindah ke makanan atau minuman. Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi memicu gangguan kesehatan seperti diare, tifus, dan penyakit saluran pencernaan lainnya.
Warga mendesak kepada para pemilik kandang ayam segera mengambil langkah konkret, mulai dari peningkatan sanitasi kandang, pengendalian hama lalat, hingga relokasi kandang ke lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk.
Selain itu, masyarakat juga meminta pemerintah desa maupun instansi terkait turun tangan melakukan pemeriksaan lapangan, mengevaluasi izin usaha peternakan, serta memastikan kegiatan usaha tidak merugikan warga sekitar.
Egi, salah seorang pemilik kandang ayam, tidak membantah bahwa kandang miliknya menimbulkan lalat. Namun, menurut Egi, lalat yang berasal dari kandangnya yang menggunakan sekam tidak separah lalat dari kandang jenis rak.
“Masalah itu timbul dari kandang rak. Kandang sekam memang menimbulkan lalat, tetapi tidak terlalu parah. Saya juga mengakui lalat itu sampai ke permukiman warga, tetapi warga yang mana yang mengeluhkan kandang saya?” ujar Egi.
Egi menambahkan, tim dari desa dan kecamatan telah melakukan survei terkait persoalan tersebut. Selain itu, Satpol PP Kecamatan juga telah melakukan tindak lanjut.
“Dari hasil survei, akar masalahnya berasal dari kandang rak.” tambahnya. ***
